kamus

Monday, December 19, 2016

PNEUMONIA

BAB I
LATAR BELAKANG

PNEUMONIA sering ditemukan pada anak balita, tetapi juga pada orang dewasa dan pada kelompok usia lanjut. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dan diobai segera. Pada orang dewasa, pneumonia bisa menjadi infeksi yang serius yang dapat berkembang menjadi sepsis yang berptensi mengancap jiwa, pneumonia jugasebagai salh satu penyakit infeksi pada usia lanut, dan masih merupakan problem kesehatan masyarakat karena tingginya angka kematian disebabkan oleh penyakit tersebut sebrbagaia negara termasuk Indonesia (Misnadiarly, 2008 : 69)
Menurut UNICEF dan WHO (tahun 2006), pneumonia merupakan pembunuh anak paling utama yang terlupkan (major “forgotten killer of children”). Pneumonia merupaka penyebab kematian yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan total kematian akibat AIDS, malaria, dan campak. Setiap tahun, lebih dari 2 juta anak meninggl karena pneumonia, berarti 1 dari 5 orang balita meninggal dunia. Pneumonia merupakan penyebab kematian paling sering, terutama di negara dengan angka kematian tinggi. Hampir semua kematian akibat pneumonia (99,9%), terjadi di negara berkembang dan kurang berkembang (least developed). (Kemenkes RI, 2010 : 22)
Dari data Ditjen PPM-PL, Depkes RI prevalensi pneumonia balita (1-4 tahun) menurut provinsi tahun 2007 dengan rentang antar provinsi sebesar 0,1 %-14, 8 %. Pravelensi tertinggi adalah Provinsi Gorontalo (14,8%) dan terendah Provinsi Sulawesi Utara (0,1%).
Dari data Kementerian RI di Indonesia prevalensi penemuan pneumonia balita di Indonesia setiap tahhun mengalami peningkatan dari 22,18% tahun 2009, 23% tahun 2010, dan 23,98% tahun 2011 .
Determine pneumonia pada blita adalah faktor host (umur, status gizi, jenis kemlamin, status imunisasi dasar, pemberian ASI, pemberian vitamin A), faktor Agent (Streptocuccus pneumoniae, Hemophilus influenzae dan Staphylococcus aureus), fakor likungan sosial (pekerjaan orang tua, dan pendidikan ibu). Faktor lingkungan fisik (polusi udara dalam ruangan, dan kepadatan hhunian) (Rahmat, 2012) .



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    PENGERTIAN
Pneumonia adalah penyakit batu pilek disertau sesak napas cepat (Misnadiarly, 2008).
Pneumonia adaah infeksi aku pada jaringan paru-paru (alveoli) (evi Indissari, 2009)

B.     ETIOLOGI
Ø  Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis. Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P. Aeruginosa.
Ø  Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet. Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
Ø  Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran burung, tanah serta kompos.
Ø  Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)

C.     PATOFISIOLOGI
Penumonia dapat terjadi akibat menghirup bibit penyakit di udara, tau kuman di tenggorokan terisap masuk ke paru-paru. Penyebaran bisa juga melalui darah dari luka di tempat lain, misalnya di kulit. Jika melalui saluran napas, agen (bibit penyalit) yang masuk akan dilawan oleh berbagai sisitem pertahanan tubuh manusia. Misalnya, dengan batuk-batuk, atau perlawanan oleh sel-se pada lapisan lenir tenggorokan, hingga gerakan rambut-rambut halus (silia) untuk mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar .

D.    MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari bronkopneumonia adalah antara lain:
11.Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
·         Nyeri pleuritik
·         Nafas dangkal dan mendengkur
·         Takipnea
22. Bunyi nafas di atas area yang menglami konsolidasi
·         Mengecil, kemudian menjadi hilang
·         Krekels, ronki, egofoni
33. Gerakan dada tidak simetris
44. Menggigil dan demam 38,8 ° C sampai 41,1°C, delirium
55. Diaforesis
66. Anoreksia
77. Malaise
88. Batuk kental, produktif
99. Sputum kuning kehijauan kemudian berubah menjadi kemerahan atau berkarat
110.Gelisah
111. Cyanosis
·         Area sirkumoral
·         Dasar kuku kebiruan
12. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati


E.     PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. Sinar x : mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul (virus). Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
  2. Analisa Gas Darah (Analisa Gas Darah) : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
  3. Pemeriksaan gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab.
  4. JDL : leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia bakterial.
  5. Pemeriksaan serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
  6. LED : meningkat
  7. Pemeriksaan fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
  8. Elektrolit : natrium dan klorida mungkin rendah
  9. Bilirubin : mungkin meningkat
  10. Aspirasi perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik(CMV) (Doenges, 1999)

F.      PENATALAKSANAAN
  1. Kemoterapi
    Pemberian kemoterapi harus berdasarkan pentunjuk penemuan kuman penyebab infeksi (hasil kultur sputum dan tes sensitivitas kuman terhadap antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral, sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis (Harasawa, 1989).
  2. Pengobatan Umum
    1. Terapi Oksigen
    2. Hidrasi
      Bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat hidrasi dilakukan secara parenteral
    3. Fisioterapi
      Penderita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk menghindari pneumonia hipografik, kelemahan dan dekubitus.




DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn (2000). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakata : EGC.
meltzer SC, Bare B.G (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume I, Jakarta : EGC
Suyono, (2000). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II, Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Herdman, T. Heather (2015). Diagnosa Keperawatan : definisi & klasifikasi 2015-2017, Jakarta :EGC
Moorhead, Sue, Maria Johnson, Meridean L Maas, Elizabeth Swanson, (2015). Nursing Outcomes Claaasification (NOC) Measurement of Health Outcomes
M. Bulechek, Gloria, Howard L. Buctcher, Joane M. Doctherman, Cheryl M. Wagner, (2015). Nursing Interventions Classification (NIC)

http://inmybrain9.blogspot.co.id/2015/07/laporan-pendahuluan-pada-pasien-pnemonia.

No comments:

Post a Comment