BAB
I
PNEUMONIA sering ditemukan pada anak balita, tetapi juga pada orang dewasa dan pada
kelompok usia lanjut. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian jika tidak
ditangani dan diobai segera. Pada orang dewasa, pneumonia bisa menjadi infeksi
yang serius yang dapat berkembang menjadi sepsis yang berptensi mengancap jiwa,
pneumonia jugasebagai salh satu penyakit infeksi pada usia lanut, dan masih
merupakan problem kesehatan masyarakat karena tingginya angka kematian
disebabkan oleh penyakit tersebut sebrbagaia negara termasuk Indonesia
(Misnadiarly, 2008 : 69)
Menurut
UNICEF dan WHO (tahun 2006), pneumonia merupakan pembunuh anak paling utama
yang terlupkan (major “forgotten killer of children”). Pneumonia merupaka
penyebab kematian yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan total kematian
akibat AIDS, malaria, dan campak. Setiap tahun, lebih dari 2 juta anak meninggl
karena pneumonia, berarti 1 dari 5 orang balita meninggal dunia. Pneumonia
merupakan penyebab kematian paling sering, terutama di negara dengan angka
kematian tinggi. Hampir semua kematian akibat pneumonia (99,9%), terjadi di
negara berkembang dan kurang berkembang (least developed). (Kemenkes RI, 2010 :
22)
Dari
data Ditjen PPM-PL, Depkes RI prevalensi pneumonia balita (1-4 tahun) menurut
provinsi tahun 2007 dengan rentang antar provinsi sebesar 0,1 %-14, 8 %.
Pravelensi tertinggi adalah Provinsi Gorontalo (14,8%) dan terendah Provinsi
Sulawesi Utara (0,1%).
Dari
data Kementerian RI di Indonesia prevalensi penemuan pneumonia balita di
Indonesia setiap tahhun mengalami peningkatan dari 22,18% tahun 2009, 23% tahun
2010, dan 23,98% tahun 2011 .
Determine
pneumonia pada blita adalah faktor host (umur, status gizi, jenis kemlamin,
status imunisasi dasar, pemberian ASI, pemberian vitamin A), faktor Agent
(Streptocuccus pneumoniae, Hemophilus influenzae dan Staphylococcus aureus),
fakor likungan sosial (pekerjaan orang tua, dan pendidikan ibu). Faktor
lingkungan fisik (polusi udara dalam ruangan, dan kepadatan hhunian) (Rahmat,
2012) .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
PENGERTIAN
Pneumonia adalah
penyakit batu pilek disertau sesak napas cepat (Misnadiarly, 2008).
Pneumonia
adaah infeksi aku pada jaringan paru-paru (alveoli) (evi Indissari, 2009)
B.
ETIOLOGI
Ø
Bakteri
Pneumonia bakteri biasanya didapatkan pada usia lanjut. Organisme gram posifif
seperti : Steptococcus pneumonia, S. aerous, dan streptococcus pyogenesis.
Bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenza, klebsiella pneumonia dan P.
Aeruginosa.
Ø
Virus
Disebabkan oleh virus influensa yang menyebar melalui transmisi droplet.
Cytomegalovirus dalam hal ini dikenal sebagai penyebab utama pneumonia virus.
Ø
Jamur
Infeksi yang disebabkan jamur seperti histoplasmosis menyebar melalui
penghirupan udara yang mengandung spora dan biasanya ditemukan pada kotoran
burung, tanah serta kompos.
Ø
Protozoa
Menimbulkan terjadinya Pneumocystis carinii pneumonia (CPC). Biasanya
menjangkiti pasien yang mengalami immunosupresi. (Reeves, 2001)
C.
PATOFISIOLOGI
Penumonia dapat terjadi akibat menghirup
bibit penyakit di udara, tau kuman di tenggorokan terisap masuk ke paru-paru.
Penyebaran bisa juga melalui darah dari luka di tempat lain, misalnya di kulit.
Jika melalui saluran napas, agen (bibit penyalit) yang masuk akan dilawan oleh
berbagai sisitem pertahanan tubuh manusia. Misalnya, dengan batuk-batuk, atau
perlawanan oleh sel-se pada lapisan lenir tenggorokan, hingga gerakan
rambut-rambut halus (silia) untuk mengeluarkan mukus (lendir) tersebut keluar .
D.
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari
bronkopneumonia adalah antara lain:
11.Kesulitan dan sakit pada saat pernafasan
·
Nyeri pleuritik
·
Nafas dangkal dan mendengkur
·
Takipnea
22. Bunyi nafas di atas area yang menglami
konsolidasi
·
Mengecil, kemudian menjadi hilang
·
Krekels, ronki, egofoni
33. Gerakan dada tidak simetris
44. Menggigil dan demam 38,8 ° C sampai
41,1°C, delirium
55. Diaforesis
66. Anoreksia
77. Malaise
88. Batuk kental, produktif
99. Sputum kuning kehijauan kemudian berubah
menjadi kemerahan atau berkarat
110.Gelisah
111. Cyanosis
·
Area sirkumoral
·
Dasar kuku kebiruan
12. Masalah-masalah psikososial : disorientasi, ansietas, takut mati
E.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Sinar x
: mengidentifikasi distribusi struktural; dapat juga menyatakan abses
luas/infiltrat, empiema(stapilococcus); infiltrasi menyebar atau
terlokalisasi (bakterial); atau penyebaran /perluasan infiltrat nodul
(virus). Pneumonia mikoplasma sinar x dada mungkin bersih.
- Analisa
Gas Darah (Analisa Gas Darah) : tidak normal mungkin terjadi, tergantung
pada luas paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
- Pemeriksaan
gram/kultur sputum dan darah : diambil dengan biopsi jarum, aspirasi
transtrakeal, bronkoskopifiberotik atau biopsi pembukaan paru untuk
mengatasi organisme penyebab.
- JDL :
leukositosis biasanya ada, meski sel darah putih rendah terjadi pada
infeksi virus, kondisi tekanan imun memungkinkan berkembangnya pneumonia
bakterial.
- Pemeriksaan
serologi : titer virus atu legionella, aglutinin dingin.
- LED :
meningkat
- Pemeriksaan
fungsi paru : volume ungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar);
tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain menurun, hipoksemia.
- Elektrolit
: natrium dan klorida mungkin rendah
- Bilirubin
: mungkin meningkat
- Aspirasi
perkutan/biopsi jaringan paru terbuka :menyatakan intranuklear tipikal dan
keterlibatan sitoplasmik(CMV) (Doenges, 1999)
F.
PENATALAKSANAAN
- Kemoterapi
Pemberian kemoterapi harus berdasarkan pentunjuk penemuan kuman penyebab
infeksi (hasil kultur sputum dan tes sensitivitas kuman terhadap
antibodi). Bila penyakitnya ringan antibiotik diberikan secara oral,
sedangkan bila berat diberikan secara parenteral. Apabila terdapat
penurunan fungsi ginjal akibat proses penuaan, maka harus diingat
kemungkinan penggunaan antibiotik tertentu perlu penyesuaian dosis
(Harasawa, 1989).
- Pengobatan
Umum
- Terapi
Oksigen
- Hidrasi
Bila ringan hidrasi oral, tetapi jika berat hidrasi dilakukan secara
parenteral
- Fisioterapi
Penderita perlu tirah baring dan posisi penderita perlu diubah-ubah untuk
menghindari pneumonia hipografik, kelemahan dan dekubitus.
DAFTAR
PUSTAKA
Doenges, Marilynn (2000). Rencana Asuhan Keperawatan,
Edisi 3, Jakata : EGC.
meltzer SC, Bare B.G (2000). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Volume I, Jakarta : EGC
Suyono, (2000). Ilmu Penyakit Dalam. Edisi II,
Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Herdman, T. Heather (2015). Diagnosa Keperawatan
: definisi & klasifikasi 2015-2017, Jakarta :EGC
Moorhead, Sue, Maria Johnson, Meridean L Maas, Elizabeth Swanson, (2015). Nursing Outcomes Claaasification (NOC)
Measurement of Health Outcomes
M. Bulechek, Gloria, Howard L. Buctcher, Joane M. Doctherman, Cheryl M.
Wagner, (2015). Nursing Interventions Classification (NIC)
http://inmybrain9.blogspot.co.id/2015/07/laporan-pendahuluan-pada-pasien-pnemonia.